KEBENARAN, BERSUARALAH!


Photo by Matt Botsford on Unsplash
It may well be that we will have to repent in this generation. Not merely for the vitriolic words and the violent actions of the bad people, but for the appalling silence and indifference of the good people who sit around and say, “Wait on time.”

-Martin Luther King Jr.-


Siapa sih sekarang yang tak punya media sosial? Hampir tidak ada ya..

Media sosial telah menjadi kebutuhan primer bagi banyak orang, khususnya para pemuda. Pengguna media sosial sendiri di Indonesia, menurut data Kementerian Informasi dan Komunikasi, mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Semakin berkembangnya teknologi dan semakin terbukanya daerah-daerah terpencil di Indonesia menyebabkan peningkatan penggunaan media sosial ini.

Teknologi ini dapat mewadahi pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan pemiliknya kemudian membagikannya ke seluruh dunia. Pemikiran dan perasaan yang dituangkan di media sosial memiliki bentuk yang bermacam-macam. Ada yang berupa teks atau tulisan, ada yang berupa gambar, dan ada pula yang berupa video. Platform yang digunakan bermacam-macam: Twitter, Instagram, Facebook, dan lain-lain.

Kebebasan yang diberikan oleh teknologi media sosial menyebabkan setiap orang semakin mudah untuk beropini menyuarakan pendapatnya. Tidak hanya pengkhotbah, tokoh masyarakat, atau pembicara saja yang dapat menyuarakan pendapat, saat ini bahkan orang awam pun bisa melakukannya. Hanya bermodal smartphone, koneksi internet, dan akun media sosial terdaftar, seseorang dapat mengatakan apapun yang dia inginkan, kepada siapapun yang dia tuju, dan dapat diketahui oleh orang-orang di seluruh dunia. Sebuah teknologi yang membahagiakan sekaligus mengerikan.

Kondisi ini menyebabkan semakin tersebarnya hoaks dan semakin mudahnya membuat masyarakat terprovokasi. Tinggal membuat post dengan judul bombastis dan kemasan menarik, masyarakat akan tertarik dan bahkan langsung menganggapnya sebagai fakta. Balas-membalas komentar masyarakat di media sosial juga dapat dengan mudah dilakukan. Sayangnya, tidak sedikit komentar-komentar yang menggunakan kata-kata cacian dan opini yang tidak berdasar fakta. Selain itu, pemikiran-pemikiran yang keliru dan sesat juga semakin mudah menyebar. Pemikiran-pemikiran seperti hedonisme, materialistis, dan individualis dapat menyebar melalui postingan masyarakat di media sosial. 

Pemuda sebagai agen perubahan masyarakat hendaknya melihat hal ini sebagai tantangan. Harus ada semakin banyak orang yang menyuarakan kebenaran, khususnya di dunia yang tak pernah diam dan berisik bernama media sosial. Etika-etika bermedia sosial hendaknya semakin disuarakan ke masyarakat. Budaya literasi juga hendaknya diterapkan agar tidak terjebak pada fakta-fakta yang keliru.

Jika semakin banyak orang salah berbicara namun dibiarkan, dan semakin banyak orang baik namun diam, kiranya akan benar-benar terjadi apa yang dikatakan Martin Luther King Jr. yang saya kutip di awal: sepertinya kita harus menaubati generasi ini.

(Dibuat sebagai bagian dari penugasan open recruitment Forum Lingkar Pena Yogyakarta 2020)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HUJAN TAK BERHENTI

SIMFONI ANAK BAND